April 4, 2025

Gor -Interpolbhayangkara.com-Timor Tengah Selatan (TTS) tengah diuji dengan bencana yang tak hanya merusak fisik rumah warga, tetapi juga menghancurkan ketenangan batin masyarakatnya. Yayasan Yusinta Ningsi Sejahtera (YNS) menyampaikan keprihatinannya atas kondisi para pengungsi yang saat ini masih berada di tempat penampungan sementara, dengan trauma yang terus membayangi anak-anak hingga lansia.

Ketua Yayasan YNS mengungkapkan bahwa penanganan pascabencana bukan hanya soal memberikan sembako atau kebutuhan dasar lainnya, tetapi lebih dari itu, menyentuh aspek psikologis korban. Anak-anak yang terbiasa bermain di rumah sederhana mereka kini terpaksa tinggal di pengungsian, di tengah ketidakpastian tentang kapan dan di mana mereka akan kembali ke kehidupan normal. “Mereka sadar rumah mereka sudah tidak bisa ditempati, tetapi mereka juga tidak punya harapan yang jelas kapan akan memiliki tempat tinggal sementara yang layak,” ungkapnya.

Menurut pantauan YNS, hingga kini belum ada penanganan trauma yang signifikan bagi korban bencana. Anak-anak terlihat menangis hampir setiap hari, merasa kehilangan kenyamanan yang mereka miliki sebelumnya. Lansia pun merasakan hal yang sama, dengan ketidakpastian nasib semakin memperburuk kondisi mental mereka. “Saya tidak melihat adanya pendekatan psikologis dari pemerintah daerah. Padahal, mereka memiliki dinas-dinas terbaik, termasuk psikolog yang seharusnya mampu membantu masyarakat bangkit dari trauma ini,” ujar Ketua YNS.

Ia juga menyarankan agar pemerintah bekerja sama dengan gereja, komunitas lokal, atau pihak-pihak terkait untuk memberikan pendampingan bagi anak-anak dan orang tua. “Penanganan trauma bukan hanya melalui permainan anak-anak. Yang dibutuhkan adalah kepastian, perhatian, dan rasa aman,” tegasnya.

Salah satu persoalan utama adalah belum adanya kejelasan tentang lokasi hunian sementara bagi para korban. Pemerintah dinilai terlalu sibuk mendata jumlah kepala keluarga tanpa mempercepat keputusan terkait lokasi relokasi. “Data memang penting, tetapi jika sibuk mendata tanpa tindakan, ini hanya akan menjadi kebiasaan buruk kita. Jangan sampai masyarakat tetap tinggal di GOR hingga akhir tahun,” tambahnya dengan nada prihatin.

YNS juga menyoroti bahwa hunian sementara yang akan dibangun harus memenuhi beberapa syarat, seperti akses air bersih, lokasi yang strategis untuk pendidikan, dan keberlanjutan ekonomi masyarakat. “Orang-orang menangis bukan karena kehilangan barang-barang, tetapi karena tidak ada jaminan untuk keberlanjutan hidup mereka, termasuk pendidikan anak-anak mereka.

Di tengah keterbatasan anggaran, YNS mendorong pemerintah TTS untuk lebih inovatif dan membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga. Mereka bahkan menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra dalam membangun rumah bagi para korban, asalkan pemerintah bersedia menjembatani dan bersikap terbuka. “Kami hadir bukan untuk mengkritik, tetapi untuk masyarakat. Jika pemerintah menangkap peluang ini, kita bisa bergerak lebih cepat. Jangan sampai peluang di depan mata malah diabaikan,” ujar Ketua YNS.

 

Waktu yang Terbatas

Libur sekolah yang tinggal dua minggu lagi menjadi tantangan tambahan bagi pemerintah TTS. Anak-anak membutuhkan ruang yang layak untuk belajar, sementara orang tua terus dihantui rasa cemas tentang masa depan keluarga mereka. “Dua minggu ini menjadi ujian besar bagi pemerintah. Apakah mereka mampu menyelesaikan masalah ini atau tidak, waktu akan menjawab,” tutupnya.

Bencana ini menjadi cerminan tentang bagaimana sebuah daerah menghadapi krisis. Tidak hanya fisik yang harus dipulihkan, tetapi juga hati dan harapan masyarakat yang porak-poranda. Kini, semua mata tertuju pada pemerintah TTS untuk mengambil langkah cepat dan konkret demi mengembalikan senyum di wajah anak-anak dan ketenangan di hati para lansia.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *