
SOE-INTERPOLBHAYANGKARA.COM – Suasana duka menyelimuti GOR Nekmese Soe, tempat pengungsian warga terdampak longsor di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Air mata bercucuran dari mata Samuel Isu, salah satu warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian akibat bencana alam yang menghancurkan hidupnya.
“Saya menangis karena saya punya hutang di Bank BRI untuk usaha pertanian. Sekarang usaha itu sudah habis tertimbun longsor, jadi saya minta Pemda kasih kami kepastian soal tempat tinggal, supaya saya bisa kerja dan bayar hutang itu. Kalau begini terus, kami harus bayar kermana lagi?” ujar Samuel dengan suara bergetar dan air mata yang tak berhenti mengalir.
Samuel menjelaskan bahwa ia mengambil pinjaman di bank untuk menjalankan usaha pertaniannya. Ia baru membayar satu tahun dari total tiga tahun jangka waktu pinjaman. Kini, dengan hilangnya ladangnya akibat longsor, ia merasa terbebani dan tak tahu bagaimana mengatasi hutang yang masih menunggu.
“Beta pinjam uang itu untuk usaha pertanian. Beta bayar satu tahun, tapi sekarang ladang Beta sudah hilang dibawah longsor. Kalau Pemda sonde kasih kami tempat tinggal, bagaimana Beta mau kerja untuk bayar hutang?” katanya penuh kesedihan.
Beban hutang bukanlah satu-satunya masalah yang mengusik hati Samuel. Ia juga berharap mendapatkan solusi mengenai pendidikan anaknya yang kini duduk di kelas 3 SMA.
“Beta punya anak kelas 3 SMA. Beta harus bayar uang sekolah dia, tapi Beta bingung harus cari dari mana. Beta hanya bisa minta Pemda tolong bicara sama Bank BRI, supaya kami diberikan keringanan sampai kami punya tempat tinggal tetap,” ujarnya sambil mengusap air mata yang terus mengalir.
Kehidupan di pengungsian tidak memberikan kenyamanan bagi Samuel dan warga lainnya. Mereka merasa terombang-ambing tanpa kepastian tentang masa depan. Mereka hanya berharap ada tangan yang terulur, ada keputusan yang membawa secercah harapan untuk memulai kembali hidup yang telah hancur bersama tanah longsor.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian dari Pemerintah Daerah TTS mengenai jadwal relokasi bagi warga terdampak. Ketidakpastian ini semakin memperberat beban para pengungsi yang harus menghadapi hari-hari penuh kegelisahan.
Mereka hanya berharap ada tangan yang terulur, ada keputusan yang membawa secercah harapan untuk memulai kembali hidup yang telah hancur bersama tanah longsor.